terkadang terhempas ke sebuah tempat kemana alam melemparnya atau menendangnya. lalu diam. menunggu alam kembali. melempar atau menendangnya.

Post via Celebrate With Cake

Post via Celebrate With Cake

(via celebratewithcake)

Source: Flickr / aegie

Text

                                                  Chap 1 :  Luvia

Luvia merapikan rabutnya dan mengancing sweater abu-abu yang dipakainya. Dia segera menuju pintu dan mengambil payung yang tergantung disitu. Sedetik ia berhenti. Terpaku sambil menatap kebawah, seperti sedang memikirkan sesuatu.Tangannya masih memegang payung yang belum terbuka sepenuhnya. Lalu dia menghela nafasnya dan membuka pintu. Mengembangkan payung dengan sempurna dan melangkahkan kakinya  keluar. Hujan turun tidak terlalu deras.

Luvia berjalan menyusuri trotoar kecil milik komplek perumahan tempatnya tinggal. Pohon Angsana rindang yang ditanami ditepi jalan cukup mengurangi deru hujan yang turun menyerangnya, meski dia masih tetap menggunakan payungnya. Tepat di ujung pintu masuk komplek, Via berhenti. Dari bawah payungnya dia menatap ke sebuah tempat diseberang jalan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tempat itu adalah sebuah kedai minum dengan nuansa modern. Tidak terlalu besar, dan arsitekturnya didominasi oleh kaca yang bagian tengahnya sengaja ditutup oleh plastik blur. Tepat dibagian atas depan toko terpampang tulisan bon brun dengan gaya segoe print. Nama tempat itu

Sebuah tempat yang didominasi warna coklat kayu hangat . Cahaya lampu yang berwarna kuning lembut. Semenjak tempat itu buka, sudah tak terhitung berapa kali Via pergi ke tempat itu. Kadang sekedar menikmati minuman coklat hangat yang menjadi andalan tempat itu kala cuaca sedang dingin, atau chocolate rum dingin dikala panas. Tapi tak jarang Via kesana hanya sekedar ingin menikmati suasanya yang nyaman dan hangat. Para barista kedai itu telah cukup mengenalnya, dan tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Karena toh tempat itu juga tidak pernah menjadi begitu sesak.

Via lebih sering duduk di bagian sudut ruangan yang cukup dekat dengan rak penuh buku yang disediakan oleh tempat itu. Tempat itu memungkinkan Via untuk dapat menikmati view keseluruhan bon brun mulai dari pintu masuk. Sebuah sofa malas juga membuat Via leluasa melihat keluar. Namun yang terpenting bagi Via sebenarnya adalah tempat itu tidak membuatnya repot mengambil buku yang ingin dijadikannya teman minum coklat, meski tak jarang Via lebih sering membawa buku sendiri. Namun hari ini hal itu tidak lagi penting baginya. Luvia hanya ingin memastikan sesuatu yang sudah cukup lama mengusiknya. Hal in tentang seseorang.  Seseorang yang selalu muncul ketika Via mulai bosan dengan buku yang dibacanya sembari menikmati coklat hangat kala hujan di bon brun. Sesuatu itu selalu muncul di pintu masuk begitu Via melepaskan pandangannya, bosan dari buku bacaaan. Seseorang yang membuatnya terpaku sebentar, karena orang itu hampir tak pernah tidak memesan minuman coklat take away.

Via ingin memastikan itu hari ini. Sudah lama Via menunggu hujan datang hanya untuk memastikan hal ini. Dia tidak pernah tahu siapa orang itu. Dia hanya ingin memastikan orang itu akan datang lagi tepat ketika Via mulai bosan dengan bacaanya dan melepaskan pandangannya dari buku. Tepat di spot favoritnya, dengan secangkit coklat hangat dimejanya. Angin mulai bertiup kencang. Air hujan turun mengikuti arah angin. Luvia mengeratkan pegangannya pada payung hitamnya. Perlahan dia berjalan menyeberang. Via tidak menyadari sebuah sedan dibagian seberang jalan yang mengarah kepadanya. Brak. Via terlempar. Payung hitamnya tergeletak dijalan. Pandangan via gelap, hal terakhir yang dia rasakan adalah suara hujan, kerumunan, dan dia masuk dalam sebuah mobil.

Text

Untukmu Gadis yang tadi memakai baju berwana abu abu.

Jadi, siang tadi aku melihatmu. Langit tak cerah sebagaimana seharusnya saat seseorang bertemu dengan orang yang dia suka. Tapi langit mendung malu malu. Seperti aku bila bertemu denganmu. Angin bertiup dingin. Membawa mendung semakin gelap. Dan hujan pun turun. Kau sendiri menatap hujan. Dan aku sendiri menatapmu dari kejauhan. Aku jadi senang menunggu hujan. Mungkin tiap saat itu aku punya kesempatan melihatmu sendirian. Walau aku sendiri masih tak bernyali menyapamu. Aku suka melihatmu termenung kala hujan. Kala hujan, kau menjadi tenang, tidak begitu sibuk, tidak selalu dikejar buru-buru, hanya dirimu duduk sendiri termenung menatap hujan. Dengan kedua matamu yang bermanik hitam

Aku mungkin masih sabar menunggu hujan. Dan berharap aku masih diberi kesempatan, dan keberanian untuk menyapamu dan menikmati indahnya kehidupan. :)



Text

Love is listening, begitu kata seorang teman di status facebooknya. Lalu, bagaimana jika orang itu tuli, masih bisakah dia merasakan cinta itu apa? Bisaka dia mendengar semua kata manis yang diucapkan orang yang dicintainya. Bisakah orang bisu merasakan cinta? Karena dia tentu tak bisa menyatakannya. Dia bisa menyampaikannya lewat gerak tubuh? Lalu bagaimana jika kita lumpuh? Bisakah dia merasakan cinta? Dia, bisa menunjukkan cinta lewat matanya. Melalui tatapan penuh cinta. Lalu bagaimana bila dia buta? Bisakah dia merasakan cinta? Pada akhirnya cinta itu urusan hati, bahkan ketika sesorang itu menjadi buta, bisu atau tuli. Sebuah hati akan selalu mengerti.

Text

Kadang aku begitu bingung dengan diam. Beberapa menganggapnya sebagai tanda iya, beberapa membuatnya sebagai pertanda marah. Sebagian menganggapnya emas, tak sedikit yang menganggapnya hal yang membosankan. Ada yang mengganggapnya sebagai bentuk paham, ada yang diam sebagai bentuk malu karena tak tahu. Ada yang diam-diam jatuh cinta. Yang patah hati pun sering sekali menjadi diam. Ada yang diam karena takut. Tapi seorang pemberani sejati pun tak perlu menjadi begitu berisik. Kadang orang diam karena ingin membuat jarak, tapi kadang orang juga menjadi diam bila sudah terlalu lama tak bertemu. Semacam rikuh. Ada yang diam karena malu. Ada pula yang diam menyusun kartu. Ada yang diam karena menikmati sesuatu. Ada yang diam karena tak ingin mulutnya jadi pembunuh. Orang yang sudah mati menjadi diam, sehingga kadang bila bayi yang baru lahir diam, semua orang panik.

Diam. Mengapa begitu rumit. Dia tak ubahnya seperti cinta. Pelik. Lalu, apabila aku mencintaimu lalu diam. Bagaimanakah kau mengartikannya?

Text

Kita saling jatuh cinta, tapi kita masih ragu
Ku bertanya kenapa? Tapi belum menemukan jawabannya
Pernah sekali kita berjumpa, kusadari kita berdua membeku
Mungkin itu jawabannya. Kita malu pada perasaan kita.

Kita berdua pun terpisah, karena kesalahan kita
Tapi firasatku berkata, kita masih menyimpan rasa
Tak pernah lagi kita bertemu, terpisah ruang dan waktu
Tapi kau selalu dalam pikiranku. Aku percaya aku pun begitu

Meski mungkin kali ini kita belum bertemu
Aku selalu percaya, kita ditakdirkan bersama
Karena bagi cinta tak pernah ada jalan buntu
Dia selalu punya cara, beri kesempatan kedua.

Text

Some friends are losing their heart, how easy to forget your old friend…

- @esthersugiarti on twitter -